Hati-hati Pemahaman Dangkal di Generasi Millenial. Berikut yang Mesti Diantisipasi

ALASUNNAH – Di suatu keluarga, selama ini si anak dikenal orangtuanya sebagai anak baik-baik dan pendiam. Hingga suatu hari, betapa hancur hati kedua orang tuanya, saat mereka mendapati kabar bahwa anaknya ditangkap aparat kepolisian. Karena diduga terlibat terorisme.



Orang tua yang lain pun kaget begitu mengetahui informasi anaknya tewas dsalam aksi peledakan. Sementara, teman-temannya serasa tidak percaya mendengar ketika ada kabar bahwa anak yang selama ini mereka kenal sebagai anak yang baik, ramah dan supel, ternyata terlibat terosisme.

Menyedihkan bukan?

Jaringan terorisme sudah berhasil menyeret anak-anak baik dari putra putri muslimin. Dengan cara aksi-aksi yang sangat bertentangan dengan agama dan akal yang sehat. Seperti mengorbankan nyawa orang-orang yang tidak berdosa.

Pastinya kita akan bertanya-tanya:
Bagaimana bisa anak-anak muslimini bisa terseret dengan jaringan terorisme?
Melalui pintu apa terorisme bisa masuk ke alam pikiran anak-anak muslimin, sehingga mereka terpincut dan mau mengikutinya?

Mudah Mengkafirkan Muslimin

Jika putra putri keluarga muslimin di hari ini terlihat memiliki kecenderungan berani memvonis kafir tanpa bimbingan ulama, maka waspadalah.

Ini merupakan cikal bakal paham takfiri (mudah mengkafirkan muslimin). Yang merupakan bibit awal dari seseorang yang berani menghalalkan darah kaum muslimin sendiri. 

Pada ujungnya, mengantarkan mereka untuk berani melakukan aksi kekerasan, yang sebelumnya dilabeli sebagai jihad.

Inilah awal seseorang terseret dalam aksi terorisme. Dan tentunya, mereka perlu disadarkan secara bijak. Supaya mereka kembali pada jalan dan pemahaman agama yang benar.

Menebarkan Kebencian kepada Kafir


Kesalahan yang fatal berikutnya, dimana pada ujungnya mengantarkan anak-anak kaum musliin tertrik dengan gerakan terorisme, adalah semangat berjihad dan kebencian terlalu besar terhadap orang-orang kafir. Tapi, tidak disertai dengan pemahaman agama yang benar tentang jihad; bagaimana aturan Islam tentang jihad, serta orang kafir manakah yang boleh diperangi.

Perlu diyakini, jihad merupakan anjuran agama. Tetapi, dalam ajaran Islam, ada aturan dan tuntunan yang mesti dipahami dengan benar dan tidak boleh dilangar. Hal inilah yang tidak dipahami dengan baik oleh mereka yang terlibat dalam aksi terorisme tersebut. 

Hal inilah yang tidak dipahami dengan baik oleh mereka yang terlibat dalam aksi terorisme tersebut. Karena, memang diantara sifat dan ciri-ciri mereka adalah dangkal cara pandangnya. 

Jangan heran jika aksi terorisme yang dilakukan merusak citra Islam dan mencemarkan nama baik kaum muslimin. Lebih khusus nama baik orang-orang yang secara istiqomah di atas agamanya.

Kenali Apa itu Terorisme, Radikalisme dan Ekstrimisme?


Munculnya terorisme berakar dari paham sempalan Khowarij. Suatu paham ekstrim dalam beragama, yang membuahkan sikap merasa benar sendiri. Kemudian, serampangan dalam memahami dan mengamalkan dalil-dalil syariat lepas dari bimbingan para ulama. Yang berujung pada pengkafiran semua pihak yang bertentangan dengan pendapatnya. Termasuk mengkafirkan pemerintah kaum muslimin.

Pada masa akhir masa Khalifah Utsman bin Affan RA, pertama kalinya gerakan terorisme muncul. Yang diprakarsai seorang Yahudi, Abdullah bin Saba. Dengan menggaungkan slogan, Keadilan dan Benci Kezaliman.

Sebagai korban pertama kalinya adalah khalifah ke-3, Sayyidina Utsman bin Affan RA sendiri. Gerakan yang digencarkan Abdullah bin Saba semakin membesar hingga pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhahu., yang menjadi korban aksi terorisme tersebut.

Merekalah kelompok sempalan Khawarij. Yang dalam sejarahnya terbukti telah tumbuh menggerogoti dan menghancurkan Islam dari dalam tubuh umat muslimin itu sendiri. Di atas paham mengkafirkan orang-orang yang bertentangan dengan mereka, dan berlanjut menghalalkan darah mereka. Dan kesemuanya itu mereka lakukan atas agama mereka sendiri.

Lewat ke baris perkakas