Maulidan Tak Melulu Harus Bulan Mulud

SANTRIMANDIRI.NET – Maulidan atau memperingati hari kelahirannya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam semarak diselenggarakan di penjuru tanah air biasanya pada Bulan Rabiul Awwal/Mulud. Naamun. tidak serta merta menjadi baku harus melulu dilaksanakan pada bulan yang agung itu.

Maulidan adalah perkara yang di dalamnya ada amalan-amalan yang mamdudah (baik). Diantaranya, silaturahmi, sedekah, pembacaan ayat suci al quran, dan yang lebih penting adalah pembacaan riwayat kehidupan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Kenali Nabi dengan Terus Dibacakan Kitab Maulid

Bagaimana kita mengenali, mengetahui, apalagi mencintai seseorang, jika kita tidak kenal, tahu biografi seseorang tersebut.

Apalagi seseorang itu adalah makhluk termulia yang diciptakan Allah Ta’ala. Dari kitab maulidlah kita mengetahui bagaimana sejarah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam, sejak dari kandungannya sampai wafat.

Kitab maulid yang sangat populer diantaranya: Burdah, Barjanzi, Simtud Durror, dan Adh Dhiyau Lami’.

Memperingati Maulid Nabi Tidak Harus di Bulan Rabiul Awwal

Maulidan atau memperingati kelahiran Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak harus di bulan Rabiul Awwal saja. Melainkan, kita bisa memilih waktu yang disesuaikan dengan kondisi yang ada.

Maulidan intinya adalah bagaiamana caranya kita mengenal, mengetahui, meneladani dan mencitai Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan semaksimal mungkin. Sesuai dengan keilmuan dan pengamalan kita menghidupkan sunnah-sunnahnya.

Membaca kitab maulid adalah salah satu dari memperingati maulid nabi. Bahkan, setiap malam Jum’at di masjid-masjid sering dibacakan kitab maulid secara berjamaah. Dan manfaatnya pun sangat banyak. Selain kita terus bertambah tahu bagaimana kepribadian Rasulullah., pun efek postifnya adalah warga masyarakat berbondong-bondong ke masjid. Di sana ada pahala i’tikaf, shalat berjamaah, shalat tahiyyatul masjid, silaturahmi, dzikir, pembacaan suci al qur’an. sholawat, dan masih banyak lagi.

Tradisi maulidan ini pun mengakar di beberapa besar masyarakat muslim Nusantara, terlebih lagi masyarakat yang berhaluan Ahlussunnah Waljamaah, dalam hal ini merupakan warga Nahdatul Ulama baik struktural maupun kultural.

Walaupun peringatan maulid Nabi Muhammad shalallau ‘alaihi wa sallam., identik dengan bulan Rabi’ul Awwal, tetapi tidak tidak banyak dari masyarakat yang memperingatinya di luar bulan tersebut.

Misalnya, di majelis-majelis atau masjid yang biasanya mengagendakan pembacaan syair maulid. Mulai dari Kitab Maulid yang Populer yakni Barjanzi, Simtud Durrar, atau yang sangat mutaakhir Adh Dhiyaul Lami’ gubahan Guru Mulia Al Musnid Al Habib Umar bin Hafizh.

Maulidan tidak melulu sekedar suatu kegiatan keagamaan semata, namun untuk muslimin nusantara mayoritas, maulidan ialah sebuah tradisi Islam di Nusantara yang terus dijalankan. Karena, maulidan adalahamalan positif yang tentunya juga bernilai spiritualitas untuk muslimin di Nusantara.

Kesimpulan:

Perayaan kelahiran Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak harus di bulan Rabiul Awwal saja, kita bisa memilih hari, waktu, dan tempat yang disesuaikan dengan kebutuhan kita.

Lewat ke baris perkakas