Setetes Pesan dari Guru Mulia Sayyidil Habib Umar bin Hafidz

SANTRIMANDIRI.NET – Selama di Tarim, momen yang paling memiliki kesan terdalam dan tak bisa dilupakan adalah ketika duduk berdua bersama beliau (Sayyidil Habib Umar Bin Hafidz). Menanyakan sesuatu, menyampaikan permasalahan, meminta doa, meminta nama, atau sekedar curhat masalah pribadi.

Tentunya momen seperti ini membutuhkan tekad dan keberanian yang berlebih. Ketika sedang ‘merasa’ banyak dosa, jangankan duduk dan berbicara face to face dengan beliau, mencium tangan beliau setiap Ba’da Shubuh saja sangat berat rasanya.

Di Musholla Ahlul Kisa’, setelah Sholat Shubuh tiap harinya adalah jadwal dars -pengajian- beliau-untuk sekarang kitab yang dikaji adalah Bulughul Maram-. Dars selesai, beliau akan melaksakan sholat Dhuha 4 raka’at sekitar 20-30 menit. Cukup lama karena beliau membaca 1-2 juz dalam sholatnya. Setelah itu, baru beliau akan melayani orang-orang yang mempunyai hajat kepada beliau.

Saat beliau shalat itulah beberapa orang sudah menunggu dan mengelilingi beliau. Mereka kebanyakan adalah murid-murid beliau, para tamu dari berbagai negara atau masyarakat Tarim sendiri. Masing-masing memiliki keperluan yang berbeda. Dan jika tidak memiliki agenda di tempat lain, beliau akan melayani mereka satu persatu.

Ada beberapa pesan yang masih kuingat ketika duduk bersama beliau. Tiga tahun yang lalu aku meminta izin untuk boyong, namun beliau tak memberi izin, akhirnya aku hanya mengambil cuti 3 bulan. Aku masih ingat, sebelum pulang aku berkata kepada beliau :

” Siidi.. Ketika pulang nanti, pasti orang-orang akan mengundang saya untuk berceramah, dan Saya sebenarnya tidak mempunyai banyak pengalaman dalam masalah ini, sedangkan Ibnu Athaillah berkata dalam Hikam-nya :

” من أذن له في التعبير فهمت في مسامع الخلق عبارته و جليت إليهم إشارته ”

Oleh karena itu saya meminta izin ‘khusus’ dalam berceramah dan berdakwah.. “.

Beliau menjawab dengan jawabannya rahasia, lalu berpesan :

“Berdakwahlah dengan kelembutan, kasih sayang, dan mengharapkan kebaikan untuk siapapun. Berziarahlah kepada para ulama dan kiai, mengajilah kepada mereka, mintalah doa kepada mereka dan sampaikan salamku untuk mereka! ”

Pesan yang bisa aku pahami dari beliau adalah :
Hargai siapapun, hormati siapapun, dan jangan pernah meremehkan siapapun.

“Andai gurumu adalah seorang wali Qutub-pun lantas engkau meremehkan dan merendahkan saudara seimanmu, maka dosa dan keburukan yang kau dapatkan sudah cukup untuk menutupi semua kebaikan yang kau miliki. ”

Tetap hargai siapapun, apalagi jika ia adalah seorang kiai, ulama atau tokoh yang dihormati masyarakat.
Jangan hanya karena engkau pernah belajar lama di luar lantas kau menjadi orang yang lupa daratan.

Tetap datangi para kiai, ambil ilmu dan barokah mereka, mintalah pendapat dan nasehat mereka, jangan sampai berjalan sendiri tanpa arahan dari mereka.

Itu diperkuat dengan pesan beliau 3 bulan yang lalu, ketika akhirnya beliau merestuiku untuk pulang :
“Jangan langsung duduk di rumah untuk mengurus pondok. Selama 6 bulan atau lebih, ziarahi para ulama dan kiai! Jauhi hal-hal yang sensitif (bisa menimbulkan perpecahan) dan lakukan hal yang bisa diterima oleh semua pihak.”

Begitu banyak yang mengakui dan menawarkan ajaran Islam ramah, indah dan damai. Namun, perilaku dan ucapan mereka bertolak belakang dan jauh dari semua itu.

Tapi dari beliau kita benar-benar melihat, menyaksikan dan membuktikan sendiri.

Bahwa Islam itu menyejukkan, mendamaikan dan menyatukan. Tak ada ejekan, cacian, makian, apalagi permusuhan dan perpecahan.

الله يرعاك و يحفظك ياسيدي في جميع حطك و ترحالك …

Oleh: Ismael Amin Kholil, Santri Darul Musthofa, Tarim, Hadromaut, Yaman (asuhan Guru Mulia Al Musnid AL Habib Umar bin Muhmmad bin Hafidz)

Editor: Mang Saman

Lewat ke baris perkakas